BAB oleh bakteri pengurai atau dekomposer. Sampah plastik

BAB I

 

BAB I

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

PENDAHULUAN

A.   
Latar
belakang

Berdasarkan UU nomor 18 tahun 2009, sampah merupakan
sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau proses alam yang berbentuk padat. Sampah akan terus menjadi isu penting karena sampah akan
selalu mencemari lingkungan sekitar, salah satunya sampah plastik.  Plastik merupakan bahan
anorganik. Bahan anorganik merupakan bahan yang 
sangat sulit untuk terurai oleh bakteri pengurai atau dekomposer. Sampah
plastik jika di buang ke sungai dan tanah dapat mencemari sumber air dan sumber
pangan makhluk hidup bahkan mahkluk hidup yang habitatnya berada disitu, hal
ini dikarenakan tidak bisa terurainya plastik oleh dekomposer. Kalaupun
ditimbun di dalam tanah makan akan membutuhkan waktu beribu-ribu tahun untuk
menguraikannya, hal ini membuat tanah menjadi tidak subur. Jika plastik dibakar
maka asap yang ditimbulkan memiliki senyawa kimia yang tidak baik dihirup bagi
mahkluk hidup. Bagaimanapun pengolahan sampah plastik akan memiliki dampak
buruk bagi lingkungan. Saat ini, Indonesia menempati posisi kedua, setelah
cina, jumlah terbanyak sampah plastik. Jika hal ini tidak diatasi dengan baik
dan benar maka akan sangat merugikan negara Indonesia oleh karena itu,
pemerintah dan Asosiasi Pengusahaan Ritel Indonesia mulai menerapkan kebijakan
penggunaan kantong plastik berbayar seharga Rp.200 perbiji. Tetapi, dikalangan
masyarakat terdapat pro dan kontra terhadap kebijakan ini.

 

B.    
Tujuan

Mengetahui
kontra tentang penggunaan kantong plastik berbayar

 

C.    
Rumusan
masalah

·        
Apa
tujuan mentri lingkungan hidup menerapkan kantong plastik berbayar?

·        
Bagaimana
pro dan kontra kantong plastik berbayar?

 

 

BAB II

 

ISI

            Kementrian Lingkungan Hidup mulai
menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar pada tanggal 21 Februari 2016.
Menurut kementrian Lingkungan Hidup, kebijakan ini sesuai dengan undang-undang
nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah. Kebijakan ini diterapkan dengan
tujuan mengurangi pencemaran lingkungan dari sampah plastik di Indonesia karena
saat ini  jumlah timbunan
sampah kantong plastik terus meningkat signifikan. Dengan diterapkannya
kebijakan tersebut, banyak terjadi pro dan kontra dikalangan masyarakat.

            Menurut
sudut pandang orang yang pro, kebijakan ini mampu mengurangi sampah plastik dan
secara perlahan dapat mengubah perilaku konsumtif masyarakat Indonesia.

            Disisi lain,
orang yang kontra menganggap bahwa kebijakan ini kurang efektif. Bisa jadi,
kebijakan ini menjadi sumber bisnis bagi pengelola supermarket. Sebuah kantong
plastik seharga Rp.200 dikalikan dengan jumlah pengunjung yang datang untuk
satu hari memiliki jumlah yang besar dan tidak ada yang tahu jumlah uang
pembayaran kantong plastik tersebut akan masuk ke anggaran negara atau atau
diambil oleh pengelola supermarket.

            Ketika
kebijakan ini mulai diberlakukan, beberapa konsumen yang menggunakan plastik
akan beralih menggunakan kardus dan terjadi kenaikan penggunaan kardus. Kebanyakan
orang berasumsi bahwa lebih baik beralih dari menggunakan plastik ke kerdus. Padahal
bahan utama untuk membikin kardus adalah kayu atau pohon. Secara tidak
langsung, kebijakan ini menekan penggunaan plastik tetapi mengorbankan hutan
atau pohon untuk membuat kardus dan bisa menimbulkan konsekuensi perubahan
iklim pada bumi.

            Dalam ketentuan kebijakan
plastik berbayar, konsumen dibebankan bisaya spenuhnya karena konsumenlah
pengguna akhir. Ini tentu saja menimbulkan pertanyaan tersendiri, mengapa hanya
konsumen yang diberi beban, bagaimana dengan pemerintah dan pelaku usaha? Bisa jadi biang keladi dari banyaknya sampah plastik
ini adalah pelaku usaha itu sendiri. Kita bisa melihat ada banyak produk yang
juga menggunakan plastik sebagai kemasan. Hal inilah yang seharusnya tidak
luput dari pantauan pemerintah sebagai regulator.

 

           

BAB III

 

PENUTUP

1.     
SIMPULAN

Dengan
diterapkannya kebijakan kantong plastik berbayar ini menimbulkan pro dan kontra
dikalangan masyarakat. Dari sisi pro, kebijakan ini bisa mengurangi sampah
plastik di Indonesia, tetapi di sisi kontra kebijakan ini kurang efektif dengan
berbagai kendala. Kebijakan ini perlu dievaluasi lagi bagi pemerintah, namun
hal ini merupakan langkah yang baik untuk memulai gerakan pengurangan sampah
plastik.

 

2.     
SARAN

Sebaiknya
masyarakat mengganti kantong plastik dengan bahan yang ramah lingkungan seperti
eco bag dan perlu diadakannya sosialisasi supaya masyarakat ikut berperan aktif
dalam kebijakan kantong plastik berbayar.

PENDAHULUAN

A.   
Latar
belakang

Berdasarkan UU nomor 18 tahun 2009, sampah merupakan
sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau proses alam yang berbentuk padat. Sampah akan terus menjadi isu penting karena sampah akan
selalu mencemari lingkungan sekitar, salah satunya sampah plastik.  Plastik merupakan bahan
anorganik. Bahan anorganik merupakan bahan yang 
sangat sulit untuk terurai oleh bakteri pengurai atau dekomposer. Sampah
plastik jika di buang ke sungai dan tanah dapat mencemari sumber air dan sumber
pangan makhluk hidup bahkan mahkluk hidup yang habitatnya berada disitu, hal
ini dikarenakan tidak bisa terurainya plastik oleh dekomposer. Kalaupun
ditimbun di dalam tanah makan akan membutuhkan waktu beribu-ribu tahun untuk
menguraikannya, hal ini membuat tanah menjadi tidak subur. Jika plastik dibakar
maka asap yang ditimbulkan memiliki senyawa kimia yang tidak baik dihirup bagi
mahkluk hidup. Bagaimanapun pengolahan sampah plastik akan memiliki dampak
buruk bagi lingkungan. Saat ini, Indonesia menempati posisi kedua, setelah
cina, jumlah terbanyak sampah plastik. Jika hal ini tidak diatasi dengan baik
dan benar maka akan sangat merugikan negara Indonesia oleh karena itu,
pemerintah dan Asosiasi Pengusahaan Ritel Indonesia mulai menerapkan kebijakan
penggunaan kantong plastik berbayar seharga Rp.200 perbiji. Tetapi, dikalangan
masyarakat terdapat pro dan kontra terhadap kebijakan ini.

 

B.    
Tujuan

Mengetahui
kontra tentang penggunaan kantong plastik berbayar

 

C.    
Rumusan
masalah

·        
Apa
tujuan mentri lingkungan hidup menerapkan kantong plastik berbayar?

·        
Bagaimana
pro dan kontra kantong plastik berbayar?

 

 

BAB II

 

ISI

            Kementrian Lingkungan Hidup mulai
menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar pada tanggal 21 Februari 2016.
Menurut kementrian Lingkungan Hidup, kebijakan ini sesuai dengan undang-undang
nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah. Kebijakan ini diterapkan dengan
tujuan mengurangi pencemaran lingkungan dari sampah plastik di Indonesia karena
saat ini  jumlah timbunan
sampah kantong plastik terus meningkat signifikan. Dengan diterapkannya
kebijakan tersebut, banyak terjadi pro dan kontra dikalangan masyarakat.

            Menurut
sudut pandang orang yang pro, kebijakan ini mampu mengurangi sampah plastik dan
secara perlahan dapat mengubah perilaku konsumtif masyarakat Indonesia.

            Disisi lain,
orang yang kontra menganggap bahwa kebijakan ini kurang efektif. Bisa jadi,
kebijakan ini menjadi sumber bisnis bagi pengelola supermarket. Sebuah kantong
plastik seharga Rp.200 dikalikan dengan jumlah pengunjung yang datang untuk
satu hari memiliki jumlah yang besar dan tidak ada yang tahu jumlah uang
pembayaran kantong plastik tersebut akan masuk ke anggaran negara atau atau
diambil oleh pengelola supermarket.

            Ketika
kebijakan ini mulai diberlakukan, beberapa konsumen yang menggunakan plastik
akan beralih menggunakan kardus dan terjadi kenaikan penggunaan kardus. Kebanyakan
orang berasumsi bahwa lebih baik beralih dari menggunakan plastik ke kerdus. Padahal
bahan utama untuk membikin kardus adalah kayu atau pohon. Secara tidak
langsung, kebijakan ini menekan penggunaan plastik tetapi mengorbankan hutan
atau pohon untuk membuat kardus dan bisa menimbulkan konsekuensi perubahan
iklim pada bumi.

            Dalam ketentuan kebijakan
plastik berbayar, konsumen dibebankan bisaya spenuhnya karena konsumenlah
pengguna akhir. Ini tentu saja menimbulkan pertanyaan tersendiri, mengapa hanya
konsumen yang diberi beban, bagaimana dengan pemerintah dan pelaku usaha? Bisa jadi biang keladi dari banyaknya sampah plastik
ini adalah pelaku usaha itu sendiri. Kita bisa melihat ada banyak produk yang
juga menggunakan plastik sebagai kemasan. Hal inilah yang seharusnya tidak
luput dari pantauan pemerintah sebagai regulator.

 

           

BAB III

 

PENUTUP

1.     
SIMPULAN

Dengan
diterapkannya kebijakan kantong plastik berbayar ini menimbulkan pro dan kontra
dikalangan masyarakat. Dari sisi pro, kebijakan ini bisa mengurangi sampah
plastik di Indonesia, tetapi di sisi kontra kebijakan ini kurang efektif dengan
berbagai kendala. Kebijakan ini perlu dievaluasi lagi bagi pemerintah, namun
hal ini merupakan langkah yang baik untuk memulai gerakan pengurangan sampah
plastik.

 

2.     
SARAN

Sebaiknya
masyarakat mengganti kantong plastik dengan bahan yang ramah lingkungan seperti
eco bag dan perlu diadakannya sosialisasi supaya masyarakat ikut berperan aktif
dalam kebijakan kantong plastik berbayar.

x

Hi!
I'm Rick!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out